Bangkit dari Gagal Panen, Lapas Kelas I Tangerang Tanam Harapan Lewat Budidaya Melon dan Semangka
Kegagalan panen akibat serangan hama tidak menyurutkan komitmen Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang dalam mengembangkan program pembinaan kemandirian. Pengalaman tersebut justru menjadi titik evaluasi untuk menyempurnakan metode budidaya sehingga pembinaan yang diberikan kepada warga binaan semakin berkualitas sekaligus mendukung program ketahanan pangan
PEMBINAAN KEMANDIRIAN
Humas
7/30/20262 min read
Tangerang - Kegagalan panen akibat serangan hama tidak menyurutkan komitmen Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang dalam mengembangkan program pembinaan kemandirian. Pengalaman tersebut justru menjadi titik evaluasi untuk menyempurnakan metode budidaya sehingga pembinaan yang diberikan kepada warga binaan semakin berkualitas sekaligus mendukung program ketahanan pangan, Selasa (4/8).
Sebagai langkah awal, dilakukan sterilisasi area greenhouse untuk meminimalkan potensi penyebaran hama sebelum budidaya kembali dimulai. Upaya ini merupakan bagian dari penyempurnaan sistem budidaya agar lingkungan tanam lebih bersih, sehat, dan siap mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal.
Lahan terbatas seluas 28 meter persegi tersebut dimanfaatkan untuk membudidayakan tanaman melon dan semangka menggunakan media tanam polybag. Metode ini dipilih sebagai solusi untuk mengoptimalkan lahan yang terbatas sekaligus menciptakan sistem budidaya yang lebih efektif. Selain memudahkan pengaturan media tanam, nutrisi, dan penyiraman, penggunaan polybag juga membuat kondisi setiap tanaman lebih mudah dipantau sehingga perawatan dapat dilakukan secara lebih terukur.
Program pembinaan ini melibatkan dua orang warga binaan yang didampingi petugas dalam setiap tahapan budidaya, mulai dari persiapan media tanam, penanaman, penyiraman, pemupukan, penyerbukan, pemangkasan hingga pengendalian hama. Melalui keterlibatan secara langsung, warga binaan tidak hanya memperoleh keterampilan di bidang hortikultura, tetapi juga belajar membangun disiplin, ketelitian, tanggung jawab, serta kemampuan menyelesaikan setiap tantangan selama proses budidaya.
Kepala Seksi Pengolahan Hasil Kerja Lapas Kelas I Tangerang, Dede Ukmartalaksana mengatakan bahwa pembinaan kemandirian harus mampu memberikan pengalaman nyata yang dapat menjadi bekal bagi warga binaan setelah menyelesaikan masa pidananya.
"Kegagalan yang pernah kami alami menjadi pengingat bahwa setiap program harus terus dievaluasi dan dikembangkan. Pembinaan ini bukan sekadar tempat membudidayakan tanaman, tetapi menjadi sarana bagi warga binaan untuk belajar disiplin, bertanggung jawab, dan tidak mudah menyerah. Harapannya, keterampilan yang mereka peroleh di sini dapat menjadi modal untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri ketika kembali ke masyarakat," ujar Dede.
Salah satu warga binaan mengatakan bahwa pengalaman gagal panen justru mengajarkan arti ketekunan dan pentingnya terus belajar dari setiap proses.
" Waktu tanaman sebelumnya gagal panen, kami memang sempat kecewa. Tapi dari situ kami jadi belajar kalau merawat tanaman itu harus telaten dan tidak boleh asal. Sekarang kami lebih paham bagaimana cara merawat tanaman dengan baik. Semoga pengalaman dan keterampilan yang kami dapat di sini bisa menjadi bekal yang bermanfaat saat kami kembali ke masyarakat nanti," ungkap T (inisial).
Melalui pengembangan budidaya ini, Lapas Kelas I Tangerang terus menghadirkan pembinaan yang adaptif dan berkelanjutan. Setiap proses budidaya menjadi bagian dari upaya membekali warga binaan dengan keterampilan, karakter, dan kepercayaan diri sebagai bekal untuk kembali berkontribusi secara positif di tengah masyarakat.
Kontak
Laporkan masalah atau ajukan pertanyaan segera.
Telepon
info@lapas1tangerang.com
+62813-2727-3887
© 2025. All rights reserved.
akunhumaslapasta@gmail.com
Shopee
