Belajar Membuat Keripik Tempe Jadi Keterampilan Produktif Warga Binaan Lapas Kelas I Tangerang

PEMBINAAN KEMANDIRIAN

Humas

9/17/20262 min read

Tangerang - Di balik renyahnya Jawara Keripik Tempe produksi Lapas Kelas I Tangerang, terdapat proses yang dimulai jauh sebelum tempe diiris dan digoreng. Tiga Warga Binaan terlibat langsung dalam mengolah biji kedelai hingga menjadi tempe, sebelum kemudian mengolahnya kembali menjadi keripik tempe yang siap dikemas, Kamis (17/9).

Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan kemandirian melalui kegiatan kerja produktif di Lapas Kelas I Tangerang. Warga Binaan tidak ditempatkan hanya pada satu tahapan pekerjaan, tetapi diberi kesempatan untuk mengenal rangkaian produksi secara utuh. Dari memilih bahan baku, mengolah kedelai, memastikan proses fermentasi berjalan baik, hingga menghasilkan produk olahan yang memiliki nilai tambah.

Prosesnya dimulai dari pemilihan biji kedelai yang kemudian diolah menjadi tempe. Tempe yang dihasilkan selanjutnya dipersiapkan khusus untuk kebutuhan produksi keripik. Berbeda dengan tempe mentah, bahan untuk Jawara Keripik Tempe terlebih dahulu dicampurkan dengan tepung khusus sebelum diolah lebih lanjut. Setelah itu, tempe diiris, dibumbui, dan digoreng hingga menghasilkan keripik yang siap dikemas.

Rangkaian tersebut membuat produksi Jawara Keripik Tempe tidak sekadar menjadi aktivitas menghasilkan makanan ringan. Di dalamnya terdapat proses belajar yang memungkinkan Warga Binaan memahami hubungan antara bahan baku, teknik pengolahan, ketelitian hingga kualitas produk akhir.

Kepala Bidang Kegiatan Kerja Lapas Kelas I Tangerang, Imam Fahmi, mengatakan keterlibatan Warga Binaan sejak tahap awal menjadi bagian penting dalam membangun pengalaman kerja yang lebih utuh.

“Keterampilan akan lebih bermakna ketika seseorang memahami prosesnya, bukan hanya mengetahui hasil akhirnya. Karena itu, kami memberikan ruang kepada Warga Binaan untuk terlibat sejak bahan baku diolah sampai menjadi produk yang siap digunakan atau dipasarkan. Pengalaman seperti ini memberi mereka kesempatan untuk belajar bekerja secara bertahap, bertanggung jawab terhadap proses, dan melihat bahwa sebuah keterampilan dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang memiliki nilai,” ujar Imam.

Dalam proses produksi, Warga Binaan mendapat pendampingan untuk menjaga setiap tahapan berjalan sesuai kebutuhan. Pembina bengkel, Prass, menjelaskan bahwa pembuatan keripik tempe juga menjadi sarana untuk membentuk kebiasaan kerja yang membutuhkan ketelitian dan konsistensi.

“Di kegiatan ini kami ingin Warga Binaan terbiasa bekerja dengan memperhatikan proses. Tidak cukup hanya menghasilkan keripik yang enak, tetapi bagaimana mereka bisa menjaga kualitasnya dari satu produksi ke produksi berikutnya. Mereka belajar memperhatikan bahan, takaran, proses pengolahan sampai hasil akhir. Kebiasaan seperti ini sederhana, tetapi sangat penting ketika keterampilan tersebut nantinya mereka bawa ke luar,” jelas Prass.

Bagi Bu, salah seorang Warga Binaan yang terlibat, pengalaman tersebut memberikan pemahaman baru tentang bagaimana bahan yang sederhana dapat diolah menjadi produk yang berbeda. Ia juga mulai memahami bahwa keterampilan tidak terbentuk hanya dengan sekali mencoba.

“Yang paling berarti bagi saya adalah ketika melihat kedelai yang kami kerjakan sendiri akhirnya menjadi produk yang bisa dinikmati orang lain. Dari situ saya merasa pekerjaan yang kami lakukan di sini benar-benar ada hasilnya. Saya jadi tahu bahwa selama masih mau belajar dan bekerja, ada kemampuan yang bisa saya bangun. Itu yang ingin saya bawa setelah bebas nanti,” ungkap Bu.

Melalui Jawara Keripik Tempe, proses sederhana dari kedelai hingga menjadi produk pangan bernilai menjadi pengalaman kerja yang memberi arti lebih bagi Warga Binaan. Mereka tidak hanya mengenal cara membuat sebuah produk, tetapi juga merasakan bagaimana ketekunan dan tanggung jawab dalam setiap tahapan dapat menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai. Pengalaman inilah yang diharapkan terus melekat dan berkembang menjadi kemampuan produktif, sehingga apa yang dikerjakan di dalam Lapas dapat menjadi bagian dari bekal nyata saat Warga Binaan kembali membangun kehidupannya di tengah masyarakat.