Tangerang — Pembinaan kemandirian di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang terus diarahkan untuk memberikan hasil yang dapat dirasakan warga binaan, bukan sekadar menjadi aktivitas selama menjalani masa pidana. Melalui Program Jawara Beton, warga binaan terlibat langsung dalam proses produksi sekaligus memperoleh pengalaman kerja yang diharapkan dapat menjadi bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.
Pelaksanaan program tersebut turut menjadi bagian dari rencana peliputan, pengambilan gambar, dan pendataan Program Aksi melalui STAR PROAKSI, Rabu (9/9). Dalam kesempatan itu, Kepala Biro Umum Sekretariat Jenderal Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agung Aribawa, hadir langsung di Lapas Kelas I Tangerang untuk melihat dari dekat pelaksanaan Jawara Beton sekaligus mengikuti proses dokumentasi program.
Didampingi Kepala Lapas Kelas I Tangerang beserta jajaran, Agung meninjau aktivitas warga binaan dan proses kerja yang berlangsung di area Jawara Beton. Dari proses tersebut, terlihat bagaimana kegiatan kerja tidak hanya diarahkan pada pencapaian produksi, tetapi juga menjadi ruang bagi warga binaan untuk mengasah keterampilan dan membangun kebiasaan kerja yang positif.
Bagi Lapas Kelas I Tangerang, keterampilan teknis berjalan beriringan dengan pembentukan kedisiplinan, tanggung jawab, serta kemampuan bekerja secara terstruktur.
“Kami ingin kegiatan yang diikuti warga binaan memberikan hasil yang benar-benar bisa mereka bawa setelah bebas. Karena itu, Jawara Beton tidak hanya kami ukur dari sisi produktivitas, tetapi juga dari keterampilan, kedisiplinan, dan tanggung jawab yang mereka bangun selama mengikuti kegiatan. Harapannya, pengalaman ini dapat menjadi modal yang relevan untuk dikembangkan ketika mereka kembali ke masyarakat,” ujar Beni.
Sejalan dengan penguatan kualitas kegiatan kerja, aspek perlindungan bagi warga binaan juga menjadi perhatian. Warga binaan yang terlibat dalam Jawara Beton mendapatkan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan serta pemberian premi sesuai ketentuan yang berlaku. Dengan demikian, aktivitas kerja yang dijalankan tidak hanya memberikan pengalaman dan keterampilan, tetapi juga disertai dengan perlindungan sosial selama mereka terlibat dalam kegiatan.
Keberhasilan tidak cukup dilihat dari terlaksananya sebuah kegiatan atau jumlah produk yang dihasilkan, tetapi juga dari sejauh mana program tersebut meningkatkan kapasitas warga binaan sebagai penerima manfaat.
“Program seperti ini harus kita arahkan pada outcome yang jelas. Setelah mengikuti kegiatan, harus ada kemampuan yang bertambah, pengalaman kerja yang diperoleh, dan kesiapan yang lebih baik untuk kembali ke masyarakat. Karena itu, pelaksanaannya perlu dikelola secara baik dan didokumentasikan secara terukur sehingga manfaatnya dapat terlihat dan program dapat terus dikembangkan,” kata Agung, Kepala Biro Umum.
Menurutnya, proses tersebut juga penting untuk disampaikan kepada masyarakat. Dokumentasi tidak hanya berfungsi sebagai catatan kegiatan, tetapi menjadi sarana untuk memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai proses Pemasyarakatan, termasuk berbagai aktivitas yang dijalani warga binaan selama berada di Lapas.
“Masyarakat perlu mengetahui bahwa Lapas bukan hanya tempat menjalani masa pidana. Di dalamnya ada proses yang mempersiapkan warga binaan untuk kembali ke masyarakat, termasuk melalui pendidikan, pelatihan, dan kegiatan kerja. Ketika proses tersebut dapat dilihat secara langsung dan disampaikan dengan baik, publik akan mendapatkan pemahaman yang lebih utuh mengenai apa yang sebenarnya berlangsung di dalam Lapas,” jelasnya.
Pandangan tersebut juga dirasakan oleh tim media yang mengikuti proses peliputan. Pengamatan langsung terhadap aktivitas warga binaan memberikan pandangan yang lebih luas dibandingkan informasi yang selama ini kerap muncul mengenai Lapas.
“Kunjungan langsung seperti ini memberikan perspektif yang berbeda. Selama ini, informasi tentang Lapas mungkin lebih sering dikaitkan dengan persoalan hukum atau keamanan. Setelah melihat langsung, ternyata ada banyak aktivitas produktif yang dijalankan warga binaan. Menurut saya, hal seperti ini penting disampaikan kepada masyarakat agar publik dapat melihat proses yang berlangsung di dalam Lapas secara lebih utuh,” ujar Danang.
Ke depan, Lapas Kelas I Tangerang akan terus memperkuat Jawara Beton, baik dari kualitas pelaksanaan, peningkatan kompetensi warga binaan, maupun keberlanjutan program. Dengan orientasi pada hasil, kegiatan kerja diharapkan tidak berhenti pada apa yang dikerjakan hari ini, tetapi menghasilkan keterampilan, pengalaman, dan kesiapan yang dapat menjadi bagian dari bekal warga binaan saat kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.