Tangerang – Ragam produk hasil warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang mendapat kesempatan untuk tampil dalam Rapat Koordinasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) Tahun 2026 yang berlangsung di Hotel Grand Mercure Kemayoran, Minggu hingga Rabu, 20 - 23 September 2026. Melalui program Jawara Beton dan produk olahan keripik tempe, Lapas Tangerang membawa karya warga binaan ke dalam forum yang dihadiri jajaran Pemasyarakatan dari berbagai wilayah di Indonesia.
Rapat koordinasi tersebut dihadiri oleh seluruh Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) dan Kepala Unit Pelaksana Teknis (Ka. UPT) Kemenimipas se-Indonesia. Kepala Lapas Kelas I Tangerang, Beni Hidayat, turut hadir mengikuti rangkaian kegiatan sekaligus mendampingi pengenalan hasil kegiatan kerja yang dibawa Lapas Tangerang.
Di area pameran, Jawara Beton hadir dengan beragam produk beton pracetak, mulai dari roster dengan berbagai tipe, paving block, kanstin, bataton, hingga tetrapod. Tak hanya menampilkan produk jadi, Lapas Tangerang juga memutar video pada layar televisi yang memperlihatkan proses pembuatan. Para peserta forum turut mendapatkan informasi mengenai Jawara Beton melalui brosur yang dibagikan selama kegiatan. Beragam produk tersebut dikerjakan langsung oleh warga binaan, mulai dari menyiapkan bahan, mencampur material, mencetak, hingga menyelesaikan produk sebelum siap digunakan.
Keragaman produk itu menjadi gambaran bagaimana Jawara Beton terus berkembang dari waktu ke waktu. Warga Binaan tidak hanya mengerjakan satu jenis produk, tetapi belajar menangani berbagai bentuk dan karakter material yang memiliki fungsi berbeda. Dari proses tersebut, keterampilan kerja dibangun melalui pengalaman langsung sekaligus pemahaman terhadap standar pengerjaan dan kebutuhan produk.
Pengembangan Jawara Beton juga tidak berhenti pada produk beton pracetak. Salah satu hasil yang dikembangkan adalah RISHAM (Rumah Instan Hemat Aman), berupa konstruksi hunian yang memanfaatkan komponen hasil produksi Jawara Beton. Kehadiran RISHAM memperluas pemanfaatan produk yang dihasilkan sekaligus menunjukkan bagaimana material yang dikerjakan warga binaan dapat dikembangkan menjadi bagian dari kebutuhan konstruksi yang lebih utuh.
Bagi Kepala Lapas Kelas I Tangerang, Beni Hidayat, membawa karya warga binaan ke forum nasional menjadi bagian dari upaya memberikan kesempatan agar hasil kerja tersebut dikenal dan mendapat respons dari lebih banyak pihak.
“Kalau karya Warga Binaan hanya berputar di dalam Lapas, ruang tumbuhnya tentu terbatas. Karena itu, kami ingin membawa hasil kegiatan kerja ini keluar, mempertemukannya dengan lebih banyak pihak, dan melihat sejauh mana karya tersebut bisa diterima. Bagi kami, ukuran keberhasilan kegiatan kerja bukan hanya berapa banyak yang diproduksi, tetapi sejauh mana apa yang dipelajari dan dihasilkan warga binaan dapat menemukan ruang untuk dimanfaatkan setelah mereka kembali ke masyarakat,” ujar Beni.
Dalam pengembangannya, Jawara Beton juga mulai membangun jejaring dengan dunia usaha. Lapas Kelas I Tangerang menggandeng PT Kreasi Purnama Properti melalui kawasan Casa De Prima sebagai salah satu mitra dari sektor pengembang. Kemitraan tersebut mempertemukan produk yang dikerjakan warga vinaan dengan kebutuhan material konstruksi di lapangan, sekaligus memberikan gambaran mengenai peluang pemanfaatannya secara lebih luas.
Kepala Bidang Kegiatan Kerja Lapas Kelas I Tangerang, Imam Fahmi, mengatakan bahwa pengembangan Jawara Beton dilakukan dengan melihat kemampuan warga binaan sekaligus kebutuhan terhadap produk yang dihasilkan.
“Kami tidak ingin kegiatan kerja berhenti pada pola ‘buat lalu selesai’. Produk harus punya arah setelah keluar dari tempat produksi. Karena itu, kami mencoba membangun mata rantainya, dari warga binaan yang mengerjakan, produk yang terus dikembangkan, sampai bagaimana produk tersebut dikenalkan kepada pihak yang membutuhkan. Kehadiran mitra seperti Casa De Prima menjadi bagian dari proses itu, karena dari sana kami bisa melihat bahwa hasil kerja warga binaan mempunyai peluang untuk masuk ke kebutuhan yang nyata,” ungkap Imam.
Kehadiran karya warga binaan dalam forum tersebut tidak hanya menunjukkan hasil yang dipamerkan, tetapi juga proses belajar dan pengalaman kerja yang dijalani secara langsung. Setiap produk menjadi sarana bagi warga binaan untuk mengasah keterampilan melalui pekerjaan nyata. Dengan membawa karya tersebut ke luar Lapas dan memperkenalkannya kepada lebih banyak pihak, pengalaman yang diperoleh diharapkan dapat terus berkembang menjadi bekal keterampilan yang bermanfaat ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.