Melihat dari Dekat Jawara Beton Lapas Tangerang, Saat Warga Binaan Mengubah FABA Jadi Karya

PEMBINAAN KEMANDIRIAN

Humas

9/16/20262 min read

Tangerang – Dari material sisa pembakaran batu bara hingga menjadi produk konstruksi yang siap digunakan. Proses tersebut menjadi perhatian TV One dan TVRI saat melakukan peliputan program Jawara Beton di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang, Rabu (16/9). Kedua media nasional itu melihat langsung bagaimana 72 (tujuh puluh dua) Warga Binaan terlibat dalam proses produksi sekaligus memperoleh pengalaman kerja yang menjadi bagian dari pembekalan keterampilan selama berada di Lapas.

Peliputan berlangsung dengan meninjau area produksi Jawara Beton, tempat Warga Binaan menjalankan berbagai tahapan pekerjaan. Awak media melihat proses pengolahan Fly Ash and Bottom Ash (FABA), pencetakan produk, hingga hasil produksi yang telah siap dimanfaatkan. Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan kerja di Lapas dilaksanakan melalui proses yang terukur, mulai dari mengenal bahan dan peralatan, menjalankan tahapan produksi, hingga memastikan produk yang dihasilkan memenuhi standar yang ditetapkan.

Keterlibatan dalam kegiatan kerja tersebut juga memberikan manfaat yang lebih luas bagi Warga Binaan. Selain memperoleh pengalaman dan keterampilan melalui pekerjaan nyata, Warga Binaan yang bekerja mendapatkan premi atas hasil produksi sebagai bentuk penghargaan terhadap pekerjaan yang dilakukan. Mereka juga memperoleh perlindungan sosial melalui kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan. Kedua hal tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman kerja yang tidak hanya berorientasi pada keterampilan, tetapi juga memberikan penghargaan dan perlindungan bagi Warga Binaan selama mengikuti kegiatan kerja.

Jawara Beton sendiri merupakan program pembinaan kemandirian Lapas Kelas I Tangerang yang memanfaatkan FABA dari PLTU sebagai salah satu bahan baku produk konstruksi. Material tersebut diolah menjadi berbagai produk, di antaranya paving block, bataton press, roster, pagar panel, dan modul rumah. Sejumlah hasil produksi telah dimanfaatkan untuk kebutuhan pembangunan di luar Lapas, termasuk kawasan perumahan dan rumah bagi Aparatur Sipil Negara.

Untuk melihat pemanfaatan produk secara langsung, awak media kemudian meninjau rumah contoh tipe 36 plus yang dibangun menggunakan panel Rumah Instan Hemat Aman (RISHAM) serta Bataton hasil karya Warga Binaan. Rumah tersebut menjadi gambaran bagaimana produk yang dihasilkan melalui kegiatan kerja di dalam Lapas dapat digunakan dalam kebutuhan pembangunan sekaligus menunjukkan penerapan keterampilan Warga Binaan dalam bentuk yang nyata.

Kepala Lapas Kelas I Tangerang, Beni Hidayat, mengatakan kegiatan kerja di Jawara Beton dirancang agar Warga Binaan mendapatkan pengalaman yang dapat menjadi bekal ketika kembali ke masyarakat.

“Di Jawara Beton, mereka tidak hanya belajar menghasilkan sebuah produk, tetapi juga belajar bagaimana bekerja dengan target, menggunakan peralatan, menjaga kualitas, dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan. Hasil kerja mereka juga dihargai melalui pemberian premi, sementara perlindungan sosial diberikan melalui BPJS Ketenagakerjaan. Jadi, ada keterampilan, pengalaman kerja, penghargaan, sekaligus perlindungan yang mereka dapatkan selama mengikuti kegiatan ini,” ujar Beni.

Hal serupa dirasakan AN (inisial), salah seorang Warga Binaan yang mengikuti kegiatan Jawara Beton. Menurutnya, keterlibatan dalam proses produksi membuat dirinya memahami bahwa sebuah produk membutuhkan tahapan dan ketelitian sebelum dapat digunakan.

“Di sini saya jadi tahu bagaimana proses membuat produk dari awal sampai selesai. Kami belajar bekerja lebih teliti dan bertanggung jawab. Yang paling berkesan, hasil pekerjaan kami juga dihargai melalui premi dan kami mendapat perlindungan melalui BPJS Ketenagakerjaan. Bagi saya, pengalaman ini bukan hanya menambah keterampilan, tetapi juga menjadi bekal untuk bekerja dan hidup mandiri ketika kembali ke masyarakat,” tutur AN (inisial).

Melalui Jawara Beton, Lapas Kelas I Tangerang menjadikan kegiatan kerja sebagai bagian dari pembinaan kemandirian yang memberi Warga Binaan pengalaman bekerja secara nyata. Keterampilan, disiplin, dan tanggung jawab yang terbentuk selama proses tersebut diharapkan menjadi bekal untuk mengembangkan kemampuan, memperoleh penghidupan, dan menjalani kehidupan yang lebih mandiri ketika kembali ke masyarakat.